Yuk Ikut Adopsi Hutan!: Aksi Bersama Wujudkan Hutan Indonesia Juara

Masalah lingkungan hidup seperti perubahan iklim dan kebakaran hutan dewasa ini menjadi perbincangan menarik bagi masyarakat dunia, begitu pula Indonesia, kenapa? pasalnya permasalahan tersebut sangat berdampak terhadap kehidupan kita. Hutan-hutan yang menyediakan oksigen telah tergerus, air laut dan air sungai yang sudah banyak tercemar, tanah tercemar oleh zat-zat kimia, serta ozon yang semakin menipis dll. Hal ini tentunya sudah kita rasakan sekarang, hilangnya pepohonan mengakibatkan ruang yang terbuka dapat tersinari oleh matahari secara langsung, sehingga dapat meningkatkan penguapan air, semakin besar penguapan air mengakibatkan tanah semakin kering, ini akan menyebabkan kelembapan udara menjadi rendah, dan mengakibatkan suhu di siang hari menjadi sangat tinggi. Suhu yang tinggi menyebabkan masalah berikutnya yaitu cuaca ekstrim, sehingga membuat tanaman sulit berkembang. Seterusnya akan mengakibatkan masalah-masalah yang semakin besar. Kerusakan ekosistem puncaknya akan megakibatkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kemarau panjang, dll.

Kerusakan Hutan
Kerusakan Hutan | Pixabay

Ada banyak pemicu dari permasalahan lingkungan hidup, salah satunya adalah semakin berkurangnya jumlah hutan dunia tidak terkecuali hutan di Indonesia. Hutan kita sebagai paru-paru dunia memegang peranan penting dalam kehidupan, mulai dari penyedia oksigen, menyerap karbondioksida, sumber pangan, air, dan tentunya sebagai pencegah dari terjadinya bencana alam.

Hutan Indonesia tersebar di beberapa tempat, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Berdasarkan data Direktorat Jendral Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan(PKTL)KLHK, hasil pemantauan hutan Indonesia Tahun 2019, menjelaskan luas lahan berhutan Indonesia adalah 94,1 Juta Ha atau 50,1% dari total luas daratan , namun fakta lain memaparkan Indonesia sekarang telah kehilangan banyak hutan, hal ini didukung dengan data yang diperoleh dari Forest Watch Indonesia, yang menyatakan pada tahun 2019 Indonesia kehilangan hutan sebanyak 1,47 Juta Hektare setiap tahun. Meskipun Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaporkan jumlah presentase luasan tutupan hutan mengalami penurunan, tetap saja hal tersebut masih sangat menghawatirkan, mengingat pentingnya hutan bagi kehidupan kita.

Pemerintah, Lembaga Swasta dan masyarakat harus terus bekerjasama dalam menjaga kelestarian hutan. Jumlah 1,47 juta hektare bukanlah sedikit, kehilangan hutan seluas itu akan berpengaruh terhadap kondisi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainya dimasa datang. Salah satu yang fatal akan terkena dampak dari kehilangan hutan serta luput dari perhatian adalah Orang Rimba.

Orang Rimba dan Hutan di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi

Gambar Hutan TNBD | www.tnbukitduabelas.id

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) terletak di 3 wilayah administratif yaitu: Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Menurut data dari Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, wilayah Taman Nasional Bukit Duabelas memiliki luas 54.780 Ha. Keadaan TNBD masih sangat asri dan tidak terjamah oleh masyarakat umum, hal ini bisa dilihat dari jumlah vegetasi yang hidup di daerah hutan TNBD yaitu ±200 Biodiversity (keanekaragaman hayati). Berdasarkan (Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 258/Kpts-II/2000 pada tanggal 23 Agustus 2000 ) TNBD adalah satu-satunya taman nasional di Indonesia yang boleh ditempati oleh manusia. Sekolompok orang yang diberi izin untuk tinggal di daerah ini disebut Orang Rimba.

Gambar Orang Rimba | www.tnbukitduabelas.id

Orang Rimba merupakan sekelompok orang yang hidup di wilayah pedalaman hutan Jambi. Hutan menjadi bagian paling penting bagi Orang Rimba, sehingga mereka menyebut hutan sebagai “Genah Bapenghidupan” yang artinya segala kebutuhan mereka peroleh dari hutan, mulai dari makan, minum, tempat tinggal, sampai tradisi adat mereka sangat bergantung pada hutan. Hal inilah yang menjadikan mereka sadar, bahwa hutan harus terus dijaga demi keberlangsungan hidup.

TNBD merupakan rumah untuk Orang Rimba, bukan hanya menjadi sumber kehidupan, Hutan di TNBD telah membentuk pola peradaban dan budaya yang saling ketergantungan antara manusia dengan hutan, puncaknya terbentulkah tatanan yang harmonis yaitu kehidupan tradisional yang kuat ditopang dengan aturan adat dan kearifan lokalnya.

Ancaman Kerusakan Hutan di TNBD Semakin Menghawatirkan

Gambar Kebakaran Hutan | www.tnbukitduabelas.id
  1. Kebakaran hutan menjadi salah satu ancaman paling sering terjadi saat musim kemarau tiba. Pada musim kemarau tahun 2019, TNBD yang merupakan rumah dari orang rimba juga tak luput dari kebakaran hutan.
  2. Masifnya pembalakan hutan dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit berpuncak pada penyempitan ruang hidup orang rimba baik secara ekonomi, sosial, dan budaya.
  3. Berkurangnya jumlah hewan buruan kerana pambalakan liar mengakibatkan banyak Orang Rimba keluar masuk hutan untuk menjual hasil pertanianya seperti rotan dan tanaman jernang. Lambat laun mereka mulai ketergantungan dengan uang dan mulai berpikir untuk mendapatkan hasil yang singkat, namun terdapat oknum-oknum yang menyalahgunakan kebebasan mereka untuk membuka lahan di TNBD yaitu dengan cara menjual lahan yang mereka buka ke orang-orang luar yang seharusnya hal tersebut tidak diperbolehkan karena mengancam ekosistem yang ada disana.

Hutan semakin tergerus, Orang Rimba tidak lagi dapat nomaden (berpindah-pindah), mereka pergi ke pinggir-pinggir desa serta ladang masyarakat. Sebagian mereka kehabisan stok makanan, karena hutan banyak dibabat, sebagian lagi memilih berdagang bahkan mengemis kepada masyarakat. Ah Miris Sekali, bicara mengenai kerusakan hutan membawa kita teringat dengan lagu Iwan Fals yang masih sangat relevan hingga sekarang yang salah satu liriknya berbunyi:

“Hutan ditebang kering kerontang, Hutan ditebang banjir datang, Hutan ditebang penyakit meradang”. ☹

AYO! Bersama Kita Jaga dan Lestarikan Hutan

Kabar baiknya adalah:

Gambar SIMONTANA | ppid.menlhk.go.id

1. Pemerintah

Pemerintah melalui kementrian KLHK membuat inovasi untuk menjaga kelestarian hutan dengan menciptakan Sistem Monitoring Kehutanan Nasional (SIMONTANA). SIMONTANA merupakan system yang dibangun untuk menyediakan data informasi sumber daya hutan berbasis spasial yang andal, terkini, dan terpecaya, serta transparan dalam pengurusan hutan nasional. Dengan SIMONTANA kita dapat mengetahui informasi tentang sumber daya hutan yaitu potensi hutan, penutupan hutan dan perubahannya, kawasan hutan, perlindungan kawasan hutan, pemanfaatan kawasan hutan, dan penggunaan kawasan hutan.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kabar gembira ini (SIMONTANA) kamu bisa kunjungi link ini.

2. Organisasi dan Komunitas

Organisasi dan Komunitas sangat berjasa dalam upaya perlindungan dan pelestarian hutan Indonesia, salah satunya ialah  yang sekarang sedang berlangsung, yaitu program kolaborasi bersama lebih dari 100 organisasi dan komunitas untuk merayakan Hari Hutan Indonesia.

Logo Hari Hutan Indonesia | www.harihutan.id

“Hutan kita Juara” itulah tema yang diangkat dalam Peringatan Hari Hutan Indonesia 2020, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2020 kemarin, kita merayakan perayaan pertama sebagai bentuk manuver baru dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia. Pentingnya hutan bagi kehidupan membuat kita sadar bahwa kita (manusia) wajib bertanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikan hutan. Jangan sampai permasalahan kerusakan hutan menjadi semakin parah, cintai hutan demi generasi kita kedepanya, jangan sampai mereka tidak dapat meihat hijaunya pepohonan rindang asri dengan flora dan fauna di masa depan nanti. Untuk itu diangkatlah salah satu program dalam perayaan Hari Hutan Nasional , yaitu Adopsi Hutan.

Yuk Ikut Adopsi Hutan!

Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutanyang masih ada mulai dari pohon tegaknya, hewanya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain didalamnya (hutanitu.id)

Ayo kita semua ikut serta menjadi agen perubahan melalui aksi sederhana “Adopsi Hutan” untuk mencegah kerusakan hutan serta mendukung upaya pelestarian hutan. Caranya mudah sekali yaitu dengan berdonasi melalui platfrom kitabisa.com atau di situs harihutan.id. Kenapa berdonasi?, karena dengan berdonasi kita bergotong-royong dalam membiayai kegiatan pelestarian hutan mulai dari patroli hutan, memberikan modal usaha dalam memproduksi hutan non kayu, serta penyediaan fasilitas kesehatan warga lokal. Donasi sesuai dengan kemampuan kita, jika harga adopsi 1 pohon lebih kurang 200 ribu untuk 1 tahun, maka mari kita ajak keluarga, sahabat, dan tetangga untuk bergotong-royong dalam rangka menyukseskan adopsi hutan dengan jumlah pohon yang kita mau.

Gerakan Adopsi Hutan akan disalurkan untuk Lembaga-lembaga yang aktif dalam melestariakan hutan dan menjaga makhluk hidup didalamnya. Yaitu:

1. PROFAUNA Indonesia ( Kalimantan Timur dan Jawa Timur).
2. Forum Konservasi Leuser dan Yayasan HAKA (Aceh).
3. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) di Kalimantan Barat.
4. Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI di Sumatra Barat, Jambi, dan Bengkulu.

Bagaimana Caranya?

• Melalui kitabisa.com

1. Kunjungi Situs kitabisa.com, Klik “Hari Hutan Indonesia” di kolom pencarian, tekan hasil pencarian.

Langkah 1 Berdonasi Hari Hutan Via Kitabisa
Gambar Olahan Pribadi

2. Kemudian Klik Hasil Icon Logo seperti gambar dibawah

Langkah 2 Berdonasi Hari Hutan Via Kitabisa
Gambar Olahan Pribadi

3. Klik Donasi Sekarang

Langkah 3 Berdonasi Hari Hutan Via Kitabisa
Gambar Olahan Pribadi

4. Isi data diri, nominal donasi, dan pilih metode pembayaran.

Langkah 4 Berdonasi Hari Hutan Via Kitabisa
Gambar Olahan Pribadi

5. Lakukan instruksi pembayaran sesuai nominal transfer.

Langkah 5 Berdonasi Hari Hutan Via Kitabisa
Gambar Olahan Pribadi

• Melalui link harihutan.id

1. Kunjungi situs harihutan.id
2. Tekan tombol garis tiga dipojok kanan atas (seperti gambar)

Gambar olahan pribadi

3. Pilih Adopsi Hutan

Gambar olahan pribadi

4. Ada akan diarahkan ke laman kitabisa.com seperti gambar dibawah.

Gambar Olahan Pribadi

Penutup

Gerakan Adopsi Hutan ini akan menjadi gerakan besar jika kita semua sadar dan ikut berpartisipasi dalam aksi sederhana yang berdampak nyata. Semua bisa dimulai dari diri sendiri, tidak peduli dimana kamu sekarang, mau di desa yang masih penuh hutan bahkan di kota yang penuh dengan polusi, kalian bisa bergabung. Kita sebagai manusia harus berterima kasih kepada hutan yang selama ini memberikan oksigen gratis kepada kita, dan berdonasi merupakan salah satu caranya.

Refrensi:

www.harihutan.id

www.menlhk.go.id

ppid.menlhk.go.id

www.tnbukitduabelas.id

Buku Informasi Taman Nasional Bukit Duabelas yang diterbitkan oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas (BTNBD) pada tahun 2017.

#HariHutanIndonesia
#HutanKitaJuara
#AdopsiHutan
#HIIXBPN
#BlogCompetitionSeries

Leave a Comment