Perpustakaan dan GEN-Z : Bersiap Menyongsong Globalisasi dengan Tingkatkan Literasi di Era Digital

Perpustakaan, apasih yang kalian pikirkan waktu mendengar kata yang satu ini? sunyi, buku, susunan rak, tempat orang-orang yang ambisius, atau tempat mengenang waktu indah bersamanya. Mungkin bagi sebagian besar anak muda kurang lebih seperti itu mendefinisikan perpustakaan. Susunan rak buku membentang sepanjang mata memandang, senyum ramah pustakawan yang menyambut kedatangan, alunan musik klasik penenang jiwa, serta tak ketinggalan hawa dingin air conditioner pelengkap yang siap menemani. Begitulah kira-kira gambaran perpustakaan dalam benak orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan saat ini.

Tahukah teman-teman menurut UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan bahwa pengertian perpusatakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Jadi perpustakaan bukan hanya sekedar gudang penyimpan buku melainkan lebih dari itu. Sebagai tempat pendidikan, penelitian, bahkan sebagai tempat rekreasi. Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Pengertian Perpustakaan

Tadi kita sudah membahas definisi perpustakaan. Namun, definisi tadi hanya berlaku untuk kebanyakan perpustakaan di masa sekarang. Pernahkah kalian berpikir bagaimana perpustakaan di masa lalu? Bagaimana sejarah terciptanya perpustakaan pertama di dunia? Jika kalian penasaran mari kita bahas bersama-sama tentang sejarah perpustakaan.

Perpustakaan dari Masa ke Masa

Sejarah perkembangan perpustakaan tentunya tidak terlepas dari perkembangan sejarah manusia. Hal ini karena perpustakaan adalah salah satu produk dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Tahukah kalian berdasarkan bukti arkeologis bahwa perpustakaan pada awalnya tidak lain adalah kumpulan dari catatan transaksi niaga.

Namun, pada masa itu jangan kalian pikirkan bahwa bentuk perpustakaannya sama dengan perpustakaan pada umumnya saat ini. Saat itu perpustakaan dapat diartikan hanyalah sebuah tempat untuk menyimpan informasi. Informasi-informasi tersebut dicatat dengan cara dipahat pada kayu, batu, dan lempengan logam.

Akan tetapi, karena alat tulis yang digunakan untuk mencatat informasi tersebut kurang praktis manusia terus berusahan untuk memodifikasinya agar lebih simpel dan mudah digunakan. Sejarah perkembangan perpustakaan yang identik dengan rumah bagi buku-buku tidak terlepas dari sejarah percetakan buku itu sendiri. Oleh karena itu, di sini kita juga akan mengenal sejarah percetakan buku.

Sejarah mencatat bahwa perpustakaan pertama di dunia terdapat di negeri piramida, ya benar sekali ada di Mesir. Di Mesir pada tahun 2.300 sebelum Masehi ditemukan sebuah penemuan sebagai tonggak besar bagi dunia kearsipan dan perpustakaan. Yaitu penemuan bahan untuk menulis yang dinamakan papyrus. Papyrus adalah media tulis yang terbuat daru rumput yang tumbuh di sepanjang sungai Nil. Dikatakan bahwa dari sinilah awal mula perkembangan istilah paper dalam bahasa Inggris yang berarti kertas. Penemuan ini juga sangat penting bagi perkembangan kertas di dunia modern karena serat selulosa yang terdapat dalam papyrus menjadi landasan dalam pembuatan kertas dunia modern.

Dengan temuan ini membawa Mesir tercatat memiliki perpustakaan pertama di dunia. Adalah Bibliotheca Alexandrina Egypt atau Perpustakaan Iskandariah Mesir diketahui sebagai perpustakaan pertama di dunia.

Bibliotheca Alexandrina Egypt : Perpustakaan Pertama di Dunia

Bibliotheca Alexandrina Egypt adalah perpustakaan pertama dan salah satu perpustakaan terbesar di dunia. Perpustakaan megah yang berdiri lebih dari tiga abad ini dibangun oleh Raja Ptolemey Soter/Ptolemaeus (322-285 SM) pada tahun 232 SM beliau merupakan raja pertama Dinasti Diadoch. Pada masa itu Bibliotheca Alexandrina Egypt menjadi pusat ilmu pengetahuan yang menghimpun serta merawat karya kesustraaan Yunani.

Raja Mesir

Bayangkan saja bahkan Raja Mesir pernah membelanjakan kekayaan kerajaan untuk menghimpun seluruh koleksi buku yang ada di penjuru negeri. Jumlah buku yang terkumpul sebanyak lebih dari 400.000 buku dan 90.000 berbentuk ringkasan yang tak berjilid.

Pada masa kemashyuran perpustakaan ini setiap perjalanan yang melewati Mesir baik perjalanan laut maupun darat semuanya akan digeledah. Apabila ditemukan buku atau naskah maka petugas akan menyalinnya yang kemudian salinannya akan dikembalikan sedangkan buku dan naskah asli akan menjadi koleksi baru Bibliotheca Alexandrina Egypt.

Berawal dari perpustakaan ini lahirlah ilmuan-ilmuan hebat dan terkemuka yang diantaranya Archimedes, Euclide, Kalimakhus, Hypatia, dan Apollonius. Dapat dibayangkan begitu megahnya perpustakaan tersebut disertai berbagai ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalamnya bak sumber mata air yang tak ada habisnya. Memang sudah seyogyanya perpustakaan menjadi rumah pengetahuan yang melahirkan orang-orang hebat yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Perpustakaan Pertama di Dunia

Perpustakaan terus mengalami perkembangan sehingga pada tahun 1440 dari sebuah kota bernama Mainz yang berada di Jerman seorang bernama Johanes Gutenberg berhasil berhasil menemukan cara mencetak buku dengan tipe cetak gerak. Meskipun hasilnya masih sederhana tidak dapat dipungkiri penemuannya ini membawa angin perubahan dalam dunia percetakan. Percetakan yang awalnya buku ditulis secara manual menggunakan tangan beralih menggunakan alat cetak.

Buku-buku yang diterbitkan masa itu hingga abad ke-16 dikenal dengan nama incunabula. Mesin cetak penemuan Gutenberg terus dikembangkan hingga akhirnya pada abad ke-16 percetakan buku dapat menghasilkan ratusan eksemplar dalam waktu singkat.

Sejarah Perpustakaan

Perkembangan Teknologi Informasi Tak Sejalan dengan Minat Literasi

Perkembangan teknologi informasi juga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan perpustakaan. Namun, tahukah kalian bahwa meskipun perkembangan teknologi telah banyak memberikan kemudahan dalam mengakses informasi hal ini tidak sejalan dengan perkembangan tingkat minat baca atau literasi di Indonesia.

Hal ini ditunjukan oleh data yang dipaparkan UNESCO (organisasi pendidikan, ilmu pengetahun, dan kebudayaan PBB) pada tahun 2016 menunjukkan minat baca masyarakat kita hanya 0,001% atau dapat diibaratkan dari setiap 1.000 orang di Indonesia, hanya satu orang saja yang rajin membaca. Sedih memang saat mengetahui fakta ini. Padahal, membaca utamanya membaca buku memiliki banyak manfaat.

Menembus Ruang dan Waktu dengan Membaca Buku

Membaca buku acapkali dikiaskan sebagai aktivitas yang membosankan. Bahkan mungkin dari banyak orang yang kita kenal bisa dihitung jari orang-orang yang rajin membaca. Padahal, membaca buku tentunya memberikan benefit tersendiri bagi para penikmatnya.

Dengan membaca buku kita bisa mengarungi dalamnya samudera, dengan membaca buku kita bisa menjelajahi luasnya angkasa, dengan membaca buku kita bisa kembali ke masa lalu untuk belajar dan mengambil hikmah yang dapat diterapkan untuk saat ini, bahkan dengan membaca buku kita bisa memperkirakan apa saja yang mungkin terjadi di masa depan sehingga kita dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dahsyat sekali bukan impact yang bisa kita peroleh dari membaca buku.

Memang tidak mudah memaksakan diri melakukan hal yang tidak biasa kita lakukan. Akan tetapi, dalam menjalani kehidupan tidak seperti memasak mi instan yang dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Semua butuh usaha dan kerja keras agar hasil yang didapatkan pun makin terasa nikmat. Maka dari itu kita bisa mulai membiasakan diri untuk meningkatkan kesadaran literasi sejak saat ini. Bisa kita mulai dengan membaca informasi kecil dengan seksama, contohnya informasi yang terdapat di berbagai fasilitas umum. Telah banyak fasilitas umum yang disertai dengan informasi tambahan tetapi masih banyak dari kita yang bahkan tidak menyadari hal sekecil itu.

Tingkatkan Literasi Digital Sebagai Proteksi Hoaks di Era Digital

Semakin berkembangnya teknologi informasi makin banyak hal yang dapat dilakukan dengan praktis. Sampai kita sekarang berada di era globalisasi, dimana informasi dapat diakses menembus ruang dan waktu. Sekarang kita dapat menerima dan menyebarluaskan informasi kapan saja dan dimana saja. Perkembangan teknologi memberikan dampak yang signifikan dalam persebaran informasi. Dengan adanya teknologi berbagai informasi dapat diakses dan disebarkan dengan mudahnya. Namun, tidak semua informasi tersebut adalah informasi yang bermuatan positif. Tidak sedikit informasi tentang berita bohong (hoaks), sara, ujaran kebencian, dan berbagai konten negatif lainnya yang berkeliaran dan disebarluaskan. Agar mampu menyaring berbagai informasi tersebut dibutuhkan literasi digital sehingga kita dapat terhindar dari informasi-informasi negatif yang simpang siur kebenarannya.

Berita Hoax

Menurut UNESCO organisasi pendidikan, ilmu pengetahun, dan kebudayaan PBB menjelaskan bahwa literasi digital berhubungan dengan kecakapan atau life skill karena tidak hanya melibatkan teknologi, melainkan kemampuan untuk belajar, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam rangka menghasilkan kompetensi digital. Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat.

Literasi digital sangat diperlukan dalam kehidupan saat ini. Bayangkan ratusan atau bahkan ribuan informasi yang kita terima setiap harinya kita terima mentah-mentah tanpa kita telaah dengan seksama terlebih dahulu. Bisa saja informasi tersebut hanya fitnah dalam ajang adu domba saja. Bayangkan akibat yang dapat ditimbulkan dari hal tersebut, rusaknya hubungan keluarga yang harmonis, hilangnya kepercayaan satu sama lain, caci maki kebencian makin merajalela, putusnya tali silaturrahmi, hingga dapat memicu terjadinya kerusuhan. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk dapat bersinergi dan bersatu bersama-sama meningkatkan literasi digital di masyarakat.

Yuk Tingkatkan Literasi Digital dengan E-Library

Perpustakaan yang dulunya mengharuskan mengunjungi langsung untuk dapat menikmati fasilitas yang ditawarkan sekarang dengan adanya teknologi kita dapat mengunjungi perpustakaan dimana pun dan kapan pun. Perpustakaan digital atau e-library menjadi solusi bagi kita yang mempunyai keterbatasan waktu untuk mengunjungi perpustakaan secara langsung.

Bermodalkan perangkat elektronik dan koneksi internet sekarang kita bisa menikmati berbagai literasi yang tersaji dalam e-library. Ketika kita membutuhkan banyak referensi untuk menulis artikel, penelitian, makalah, atau untuk mengerjakan tugas sekarang cukup dengan memilih berbagai pilihan perpustakaan digital yang tersedia.

Setelah menemukan perpustakaan digital yang cocok kita tinggal registrasi dan boom!!! kita bisa menikmati berbagai referensi buku digital yang tersedia. Diharapkan dengan adanya perpustakaan digital ini juga mampu untuk meningkatkan kemampuan literasi digital khususnya bagi masyarakat Indonesia.

Literasi Digital di Era 4.0

Profil UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, Komitmen Penuh Wadahi Literasi Digital bagi Gen-Z

Profil UPT Perpustakaan Universitas Syiah Kuala

Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai lembaga pendidikan di Indonesia tentunya memiliki tanggung jawab untuk turut serta meningkatkan literasi digital.

UPT Perpustakaan UIN Syiah Kuala

Dalam hal ini USK telah memiliki perpustakaan digital melalui UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Perpustakaan digital yang dimiliki USK memiliki memiliki berbagai koleksi buku digital, jurnal, berita, dan berbagai informasi menarik lainnya. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 100 ribu koleksi buku digital dan lebih dari 122 ribu koleksi eksemplar.

UPT. Perpustakaan Universitas Syiah Kuala

Dalam rangka membantu membantu meningkatkan literasi digital di Indonesia UPT. Perpustakaan USK mengadahan USK Library Fiesta 2022 yang bertujuan untuk melahirkan kembali generasi muda yang memiliki potensi dalam diri mereka dan meningkatkan kemampuan literasi khususnya di kalangan mahasiswa.

Sumber Gambar: Diolah dari beberapa sumber

Sumber Vektor: Diambil dari Platfrom SlideGo

Refrensi Tulisan

https://sudinpusarjakpus.jakarta.go.id/?p=6322
http://lailynurjannah.blogspot.com/2018/01/sejarah-perpustakaan-di-dunia-dan.html
https://docplayer.info/30750715-Sejarah-perpustakaan-dunia.html
https://dlibrary.ittelkom-pwt.ac.id/index.php?p=perpustakaan_pertama#:~:text=Bibliotheca%20Alexandria%20Egypt%20atau%20Perpustakaan,SM)%20raja%20pertama%20dinasti%20Diadoch.
https://ilhamqmoehiddin.wordpress.com/2010/01/11/bibliotheca-alexandrina-egypt/
https://mediaindonesia.com/teknologi/445079/ini-pengertian-literasi-digital-dan-pentingnya-bagi-pelajar
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/3962/literasi-digital-masyarakat-indonesia-membaik
https://library.unsyiah.ac.id/
https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media

9 thoughts on “Perpustakaan dan GEN-Z : Bersiap Menyongsong Globalisasi dengan Tingkatkan Literasi di Era Digital”

  1. Karna pandemi banyak kegiatan dibatasi, termasuk kegiatan di perpustakaan, Alhamdulillah sekarang sudah serba digital, perpustakaan pun bisa dijangkau dalam genggaman.
    tapi masih tetap, suasana membaca di perpustakaan nggak ada duanya ๐Ÿฅบ

    Reply
    • Yup benar sekali kak, suasana membaca buku di perpustakaan memang gaada duanya ๐Ÿ˜ข
      Semoga pandemi cepat berlalu dan aktivitas di perpustakaan bisa kembali seperti sebelumnya ๐Ÿ™๐Ÿป

      Reply
  2. Perpustakaan sekarang sudah luar biasa maju. Buku bukunya juga sudah diubah fisiknya menjadi digital sehingga mudah diakses oleh banyak orang. Ini jadi memudahkan untuk dibaca kapan saja dan dimana saja.
    Tapi jujurly aku tetep suka yang versi nyata fisiknya, bisa dipegang dan diraba

    Reply
  3. Hadirnya perpustakaan digital (E-Library) sangat amat membantu di era pandemi seperti sekarang ini. Namun sayang, hal tersebut justru tidak dibarengi dengan meningkatnya minat membaca orang-orang.

    Aku jadi teringat beberapa tahun kebelakang, yang mana kala itu masih eranya perpustakaan keliling. Pada saat itu perpustakaan keliling sudah termasuk canggih, karena kita tidak perlu report-report pergi ke perpustakaan. Entah sekarang masih ada atau tidak, tapi sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihat perpustakaan keliling.

    Reply
  4. Apapun kondisinya, aku tetap lebih menyukai membaca buku secara riil di perpustakaan ๐Ÿ˜Š Memang sih kini sudah ada e library, tentu sangat memudahkan kita membaca secara digital. Literasi digital sangat mesti bisa dikuasai tentunya agar bisa melahirkan orang2 hebat.

    Reply
  5. Mudahnya sekarang kalau mau baca-baca gak perlu lagi harus dateng ke perpustakaan, sekarang udah ada versi onlinenya.. Bahkan beberapa perpustakaan dibeberapa wilayah pun bisa diakses lewat internet.. Senengnyaaa aa..

    Reply
  6. Artikelnya sangat menarik kak. Tidak dipungkiri keberadaan e-library memang sesuai dengan era globalisasi saat ini. Namun, kurangnya literasi digital dan minat baca (terutama untuk bacaan berbobot berat seperti jurnal dll.) masih jadi kendala. Semoga hadirnya e-library benar-benar bisa mendorong minat baca rakyat Indonesia terutama untuk para generasi muda Indonesia.

    Reply

Leave a Comment