Buya Hamka: Belajar Memaafkan Dari Sang Buya

Buya Hamka – Maaf, sebuah kata singkat yang setiap orang pasti pernah mengatakannya. Kata ini seolah begitu mudah di lontarkan akan tetapi begitu sulit bila dilakukan dengan hati yang tulus.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan setiap orang juga pernah memaafkan, akan tetapi bagaimanakah makna maaf yang sebenarnya, yang bukan hanya seremoni pada kata-kata manis belaka.

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”
(Q.S Al-A’raf : 199)

Ada istilah hati seperti kaca, apabila ia pecah kaca tersebut dapat direkatkan kembali, akan tetapi tidak dapat memantulkan pantulan yang sempurna seperti semula.

Begitu juga dengan hati apabila telah tergores luka maka dimana obat hendak dicari. Manusia terkadang terlalu mudah untuk menyakiti hati dan perasaan orang lain disekitarnya akan tetapi juga, yang perlu kita ketahui masih ada banyak orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan dalam artian bukan hanya sekedar retorika belaka akan tetapi memaafkan dalam artian yang sesungguhnya tanpa meninggalkan luka yang pernah ada, tidak mengingat kembali kesalahan orang tersebut dan tiada menyimpan dendam di dalam hati.

Mungkin perbuatan itu masih akan selalu membekas akan tetapi bekas dari masa lalu itu kita anggap sirna dengan memaafkan segala apa yang telah orang lain perbuat.

Mungkin itulah sedikit makna dari kata memaafkan yang sesungguhnya. Karena ada dosa yang tak dapat diampuni hanya dengan memohon maaf saja kepada Allah meskipun menangis di depan pintu ka’bah, yaitu dosa kepada sesama manusia.

Untuk mendapatkan keridhoan Allah menghapuskan dosa kita kepada sesama manusia haruslah meminta maaf dan saling memaafkan. Terkadang meminta maaf akan sesuatu terasa begitu berat dikarenakan gengsi dan ego yang terlalu tinggi.

Banyak yang mampu beribadah menahan makan dan minum yaitu berpuasa, sholat tahjjud disepertiga malam, sholat duha dan ibadah-ibadah sunnah lainnya akan tetapi tak banyak yang mampu menahan emosi, amaran dan saling memaafkan.

Turibat alaihimul firdah (mereka akan dihinakan sama seperti tanah) illa (kecuali) bihablin minallah hablum minallah wa hablum minannas yaitu mereka baik hubungannya kepada Allah (Vertikal) secara ibadah dan lainnya akan tetapi juga baik hubungannya kepada sesama manusia (horizontal).

Maka dari itu mari perbaiki diri kita khususnya kepada sesama manusia. Bagaimana kita saling memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Ada salah satu tokoh legendaris republik ini yang sangat patut kita contoh dalam memaafkan.

Beliau mungkin tak asing lagi bagi kita, walau telah lama pergi akan tetapi karya dan jasanya akan selalu terkenang. Ia adalah seorang Ulama, cendikiawan, sastrawan, politisi dan banyak lagi kemampuan yang dimilikinya.

Ia adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Buya Hamka, kisah hidupnya yang melegenda, tulisan-tulisannya yang menginspirasi banyak orang dan nasihat-nasihatnya yang menyejukkan.

Dari beliaulah kita hendak belajar arti memaafkan yang sesungguhnya bagaimana bukan hanya tentang prinsipnya yang begitu kuat ia juga memiliki hati yang begitu lembut dan mudah memaafkan.

Ada sebuah kisah yang menarik yaitu di mana pada saat sekitar tahun 1964 di mana pada saat itu Geopolitik Indonesia sedang mamanas dimana adanya pergolakan ideologi yang muncul pada saat itu yaitu Komunis yang dibawa oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada saat itu Buya Hamka difitnah oleh rezim orde lama yaitu Soekarno dengan tuduhan hendak menggulingkan dan membunuh presiden Soekarno. Hamka ditahan dan dipenjara tanpa adanya peradilan yang jelas hampir kurang lebih 3 tahun. Hamka bukan hanya dipenjara akan tetapi juga disiksa secara lahir maupun batin.

Siksaan secara lahir atau secara fisik yang ia terima, baik itu pukulan, tamparan dan lain sebagainya sebagaimana yang dituliskan di dalam buku yang berjudul AYAH yang ditulis anak beliau yaitu Irfan Hamka.

Siksaan tersebut ia terima karena ia tidak mau mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan, selain siksaan secara fisik mentalnya juga disiksa, ia dituduh sebagai pengkhianat bangsa, antek asing, orang yang menjual bangsanya sendiri kepada negara lain.

Bagaimana perasaan Buya Hamka pada saat itu, ia yang hampir seluruh umur hidupnya ia pakai untuk memperjuangkan bangsanya yang waktu itu terjajah, yang ia pakai seluruh pemikirannya untuk negaranya yang ia korbankan seluruh harta benda bahkan nyawa demi Indonesia tercinta.

Akan tetapi setalah ia menjalani hukuman dari sebuah kesalahan yang tak pernah ia lakukan tersebut. Akhirnya yang benar tetaplah benar walau seluruh makhluk mengatakan ia salah hanya karena sebuah kebencian. Ia keluar dari penjara dan apa yang terjadi pada orang-orang yang memfitnah dan memenjarakannya mereka mendapatkan ganjaran yang setimpal.

PKI dibubarkan dan menjadi partai terlarang karena pemberontakan yang mereka lakukan dan Orde Lama pun tumbang digantika dengan orde baru.

Akan tetapi yang menarik adalah ketika suatu hari seorang utusan datang kepada Buya Hamka, utusan tersebut membawa kabar bahwa Presiden Soekarno yaitu Presiden Pertama Indonsia, bapak Ploklamasi tersebut telah wafat.

Dan yang kedua utusan tersebut juga membawa pesan bahwa sebelum meninggal Presiden Soekarno berwasiat yang dimana isi dari wasiat tersebut adalah “apabila aku meninggal, maka aku mau yang menjadi imam sholat jenazahku adalah Hamka”. Dan setelah wasiat ini disampaikan kepada Buya Hamka, apakah jawaban yang diberikan Buya.

Dengan berjiwa besar dan Ikhlas Buya Hamka bersedia menjadi imam sholat jenazah tersebut, dimana yang akan disholatinya itu adalah orang yang pernah memenjarakan dan memfitnahnya.

Sebegitu lembut dan pemaafnya jiwa Buya Hamka pada saat itu ia tetap menganggap Soekarno tetap sebagai saudaranya, anak angkat kesayangan ayahnya walau atas apa yang telah dilakukan Bung Karno Kepadanya. inilah hakikat memaafkan yang sesungguhnya.

Kisah yang kedua hampir sama halnya seperti kisah yang diatas, diceritakan juga di dalam buku AYAH yang ditulis langsung oleh anak Buya Hamka, dimana salah satu tulisan Hamka yang sangat popular yaitu novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dituduh hasil dari menjiplak dari novel asing yang berjudul Sous les Tilleus karya pengarang Perancis Jean-Baptiste Alphonse Karr.

Hamka diduga mengambilnya dari saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluti, Majludin atau Magdalena (dibawah Naungan Pohon Tilia) dari Mesir.

Hamka difitnah habis-habisan salah satunya oleh Pramodya Ananta Toer seorang sastrawan Indonsia yang terkenal dan juga tokoh Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat) yang berafiliasi pada PKI pada saat itu, lewat rubrik Lentera dalam Harian Bintang Timur yang diasuhnya, mendakwa bahwa karya Hamka itu hasil Plagiasi.

Akan tetapi pada akhirnya tetaplah kebenaran itu akan tampak. Karena kedekatan Lekra dengan PKI dianggap sebagai kegiatan subversive terhadap negara. Pram dan para tokoh Lekra lainnya ditangkap dan diasingkan di pulau Buru sebagai tahanan politik.

Setelah lama tidak pernah lagi bersinggungan antara Hamka dan Pramodya, pada suatu kesempatan, Hamka kedatangan sepasang tamu. Seorang perempuan jawa dengan nama Astuti dan seorang lelaki keturunan Tionghoa.

Pada saat itulah Astuti memperkenalkan siapa dirinya dan keluarganya, pada saat itu Buya Hamka agak terkejut. Sebagaimana yang ditulis Irfan Hamka di dalam Bukunya yang berjudul AYAH. Ternyata Astuti anak sulu dari Pramodya Ananta Toer.

Astute kemudian menyampaikan apa maksud dari kedatangannya menemui Buya Hamka. Ia meminta agar Buya Hamka mau membimbing sang kekasih yang merupakan calon suaminya belajar dan memeluk Islam melalui tangan Buya Hamka.

Sang ayah yaitu Pram, tidak setuju jika sang anak menikah dengan lelaki yang berbeda agama dan sang ayah menyarankan agara belajar agama dengan Buya Hamka.

Dan lagi-lagi dengan senang hati dan ikhlas Buya Hamka mau membimbing calon menantu Pram tersebut. Mungkin inilah cara Pramodya meminta maaf kepada Hamka melalui anak dan menantunya dan Hamka dengan ikhlas memaafkan tanpa pernah menyinggung sama sekali persoalan dengan Pram beberapa tahun yang silam.

Dari kedua kisah inilah kita belajar betapa besarnya jiwa sang Buya dalam memaafkan, memaafkan bukan hanya sekedar retorika belaka akan akan tetapi memaafakan dengan tulus dari hati tanpa rasa dendam sedikitpun.

Kata Kata Buya Hamka

Masa lalu mungkin pernah kelam akan tetapi jangan jadikan masa lalu yang kelam tersebut untuk menghalangi seseorang untuk berubah dan memaafkan segala perbuatannya dimasa lalu.

Mungkin kata-kata itulah yang bisa tergambarkan dari sosok seorang yang dijuluki Buya, anak dari Maninjau yang tak pernah bersekolah formal akan tetapi mendapat gelar DR (H.C) Honoris Causa dari luar negri.

Baca Juga: Cara Belajar Ekonomi Syariah Lewat Instagram

Dialah Prof. DR (H.C) H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan Buya Hamka, bukan hanya keteguhan prinsipnya yang menjadi teladan, tulisan-tulisannya yang menginspirasi dan nasihat-nasihatnya yang menentramkan Qolbu, akan tetapi ketulusan hati dan kebesaran jiwa dalam memaafkan juga sebagai contoh, bahwa saling maaf dan memaafkan itu salah satu kunci hidup bahagia.

Penulis

Leave a Comment